Sejarah Manusia yang Mengejutkan di Balik Simbol Matematika

18

Bagi siapa pun yang pernah menatap kosong pada persamaan yang dipenuhi tanda tambah, pecahan, atau simbol misterius pi (π), mungkin sulit membayangkan bahwa alat-alat ini lahir dari kisah-kisah yang sangat manusiawi. Matematika bukan hanya tentang kebenaran abstrak; simbol-simbolnya telah berevolusi selama berabad-abad, dibentuk oleh para pedagang, cendekiawan, dan bahkan mimpi. Memahami sejarah ini tidak hanya bersifat akademis – hal ini dapat mengubah cara kita mendekati subjek tersebut, menjadikannya tidak terlalu mengintimidasi dan lebih relevan.

Dari Jalur Perdagangan hingga Rambu Plus dan Minus

Simbol-simbol yang kita anggap remeh saat ini tidak selalu menjadi bagian dari lanskap matematika. Tanda plus (+) dan minus (-), misalnya, baru muncul pada akhir abad ke-15 dalam teks matematika Jerman. Tujuan awalnya bukanlah penambahan atau pengurangan abstrak, melainkan menunjukkan kelebihan atau kekurangan dalam perdagangan. Seiring berkembangnya perdagangan laut, para pedagang membutuhkan cara yang lebih cepat untuk mencatat transaksi dibandingkan dengan deskripsi tulisan tangan.

Bayangkan: “Kapal satu membawa tiga peti apel… dua ratus ikan…”. Beralih ke simbol seperti “+”, “-“, dan “x” mengurangi jumlah karakter hingga 65%, menghemat waktu dan menghindari kram tangan bagi pemegang buku yang sibuk. Kebutuhan praktis ini mendorong penerapan tanda-tanda yang kini ada di mana-mana.

Bangkitnya Bahasa Simbolik

Evolusi tidak berhenti di situ. Tanda “x” untuk perkalian muncul pada abad ke-17 berkat ahli matematika Inggris William Oughtred, yang juga memperkenalkan titik dua (:) untuk pembagian. Namun hal ini pun bukanlah sesuatu yang baru: para sarjana Arab telah menggunakan garis horizontal untuk pecahan berabad-abad sebelumnya, sebuah konsep yang digabungkan dengan titik dua Oughtred menjadi simbol pembagian modern (−) berkat matematikawan Swiss Johann Rahn.

Proses ini menyoroti sebuah poin penting: notasi matematika tidak diilhami oleh Tuhan. Ini adalah gabungan dari pertukaran dan adaptasi budaya. Simbol tidak lahir dalam ruang hampa; mereka menyebar, berubah, dan terkadang menghilang, mencerminkan realitas kemajuan manusia yang berantakan.

Asal Usul Aljabar yang Tak Terduga

Aljabar sendiri, dengan simbol-simbol abstraknya yang mewakili besaran-besaran yang tidak diketahui, berakar pada permasalahan hukum dan bisnis praktis. Polimatik Arab abad ke-9 al-Khawarizmi tidak menulis buku teks matematika; ia menulis pedoman bagi para hakim tentang pembagian warisan secara adil. Metodenya, menggunakan persamaan aljabar, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menyebar ke seluruh Eropa.

Gagasan untuk menyelesaikan sesuatu yang tidak diketahui (seperti menemukan “a” dalam 7 + a = 10) bukanlah latihan teoretis; itu adalah alat untuk menyelesaikan perselisihan di dunia nyata. Prinsip praktis ini sering kali hilang di ruang kelas modern, di mana aljabar terasa terpisah dari kehidupan sehari-hari.

Epik Pi dan Kekuatan Mimpi

Bahkan konstanta yang tampaknya tidak dapat diubah seperti pi (π) memiliki kisah kemanusiaan. Orang Babilonia dan Mesir kuno memperkirakan nilainya dengan menghitung luas bidang melingkar. Belakangan, Archimedes menyempurnakannya menggunakan geometri, sehingga mendapat julukan “konstanta Archimedes”.

Pencarian presisi yang lebih tinggi berlanjut selama berabad-abad, yang berpuncak pada karya Srinivasa Ramanujan, seorang jenius matematika India yang mengklaim bahwa seorang dewi Hindu mengungkapkan sembilan digit pertama pi kepadanya dalam mimpi. Simbol itu sendiri, π, baru digunakan pada awal tahun 1700-an oleh William Jones, kemungkinan dipilih sebagai huruf pertama dari kata Yunani untuk “keliling”.

Matematika sebagai Warisan Manusia

Sejarah simbol matematika adalah pengingat bahwa bidang yang paling abstrak pun dibentuk oleh kebutuhan manusia, kebiasaan, dan penemuan yang tidak disengaja. Matematikawan seperti Giuseppe Peano bahkan berusaha menulis seluruh karya hanya dengan menggunakan simbol, sebuah tren yang pada akhirnya terbukti tidak praktis.

Pada akhirnya, memahami asal usul bahasa ini dapat membuat matematika tidak lagi terasa seperti bahasa asing, melainkan lebih seperti warisan budaya bersama. Seperti yang dikatakan ahli matematika Kate Kitagawa, perjalanan notasi matematika “masih jauh dari selesai”, dengan kemungkinan yang tidak terbatas mengenai cara kita merepresentasikan prinsip-prinsip yang mengatur dunia kita.

Ini bukan hanya tentang menghafal rumus; ini tentang mengenali kisah-kisah manusia yang tertanam dalam setiap persamaan.