Mitos Nilai Jodoh: Mengapa Kesan Pertama dalam Bercinta Seringkali Salah

22

Buku baru psikolog Paul Eastwick, Bonded by Evolution, membongkar teori populer namun memiliki kelemahan tentang cara kerja hubungan. Gagasan tersebut – sering kali beredar di saran kencan dan forum online – menunjukkan bahwa kesuksesan romantis ditentukan oleh hierarki “nilai pasangan” yang kaku berdasarkan daya tarik, status, dan sumber daya. Menurut pandangan ini, individu bersaing di pasar, berpasangan dengan mitra bernilai tertinggi untuk mendapatkan keturunan yang optimal. Eastwick secara persuasif berpendapat bahwa “EvoScript” ini sebagian besar hanya omong kosong.

Masalah dengan Penilaian Snap

Banyak penelitian yang mendukung nilai pasangan bergantung pada penilaian yang dangkal. Penelitian sering kali meminta partisipan menilai daya tarik dari foto atau video orang asing. Meskipun orang mungkin sepakat tentang siapa yang tampak lebih menarik, penilaian awal ini terkenal tidak dapat diandalkan. Eastwick dan rekan-rekannya telah menunjukkan bahwa konsensus mengenai daya tarik seseorang dengan cepat hilang begitu interaksi nyata dimulai.

“Jika menurut saya Anda keren, orang lain hanya 53 persen setuju dengan saya,” kata Eastwick. Ketidakstabilan ini menunjukkan bahwa “nilai pasangan” yang kita anggap jauh lebih cair daripada asumsi sebelumnya.

Daftar Periksa Kompatibilitas Trump

Penggerak sebenarnya dari koneksi tidak mencentang kotak pada daftar preferensi. Orang-orang mengaku mencari sifat-sifat tertentu – ekstroversi, petualangan, kesuksesan – namun penelitian menunjukkan bahwa preferensi ini tidak terlalu berpengaruh. Yang benar-benar penting adalah perasaan yang ditimbulkan seseorang dalam diri Anda, sesuatu yang hanya dapat ditemukan melalui percakapan bermakna dan berbagi pengalaman. Kompatibilitasnya berantakan, tidak dapat diprediksi, dan tidak selaras dengan kesan permukaan.

Kesan Pertama Menipu

Justin Garcia, direktur Kinsey Institute, setuju bahwa penilaian awal terhadap “kemampuan berkencan” sangat menyesatkan. Kita dengan cepat menilai pasangan yang tidak cocok, namun nilai pasangan jauh lebih kompleks daripada yang terlihat. Baik Eastwick maupun Garcia menekankan pentingnya “ekspansi diri” – pertumbuhan bersama dan pengalaman baru yang membuat hubungan menjadi menarik.

Implikasi Praktis untuk Berkencan

Mengingat kesan pertama yang tidak dapat diandalkan, Eastwick merekomendasikan untuk memberikan setidaknya tiga kesempatan kepada calon mitra sebelum menghapusnya. Kesan ketiga Anda adalah prediktor yang jauh lebih baik dibandingkan penilaian awal apa pun. Dia juga menyarankan untuk melakukan kencan yang berbeda – bermain sepatu roda, karaoke, bahkan mencicipi coklat – untuk mengukur bagaimana seseorang berperilaku dalam konteks yang berbeda.

Yang penting, membina persahabatan yang sudah ada sangatlah penting. Cinta lebih mungkin berkembang dengan seseorang yang sudah Anda kenal. Mempertahankan hubungan sosial memberikan manfaat lebih dari sekadar romansa, termasuk peningkatan kesehatan mental dan fisik.

Friend Zone Bukanlah Jalan Buntu

Bahkan penolakan dapat menghasilkan ekspansi sosial yang berharga. Eastwick sendiri tetap berteman dengan mantan kekasihnya, Anna, yang akhirnya mendapatkan akses ke lingkaran sosialnya. Jaringan yang semakin luas memberikan manfaat tersendiri, menunjukkan bahwa “zona pertemanan” belum tentu gagal.

Pada akhirnya, menemukan cinta membutuhkan pikiran terbuka, kejujuran, dan kebaikan. Tidak perlu strategi kencan yang sinis. Dengan berfokus pada hubungan yang tulus, individu dapat meningkatkan peluang mereka untuk menemukan hubungan yang memuaskan.

Kuncinya? Percayai perasaan Anda yang terus berkembang, bukan peringkat yang dangkal. Kompatibilitas sejati membutuhkan waktu, usaha, dan kemauan untuk melihat melampaui kesan pertama.