Spesies Burung Kicau Baru Dikonfirmasi di Bolivia Setelah Beberapa Dekade Salah Identifikasi

13

Selama enam puluh tahun, seekor burung penyanyi kecil berwarna hijau zaitun yang menghuni sabana Bolivia yang banjir tetap menjadi misteri. Awalnya dianggap sebagai variasi regional dari burung hijau Hylophilus yang dikenal, analisis genetik dan perilaku baru-baru ini secara definitif mengonfirmasi bahwa burung ini merupakan spesies yang berbeda: Hylophilus moxensis, atau tanaman hijau Beni. Penemuan ini tidak hanya memperluas keanekaragaman hayati burung di Amerika Selatan yang sudah luar biasa, namun juga menyoroti betapa masih banyak yang belum diketahui bahkan dalam keluarga burung yang telah banyak dipelajari.

Jalan Panjang Menuju Pengakuan

Kisah burung hijau Beni dimulai pada tahun 1960 ketika ahli burung pertama kali mengamati variasi populasi burung yang menghuni sabana Beni di Bolivia, sebuah ekosistem lahan basah unik yang dikenal sebagai Llanos de Moxos. Selama beberapa dekade, burung-burung ini diasumsikan sebagai populasi terisolasi dari burung hijau bermahkota merah (Hylophilus poicilotis ) dan burung hijau bermata abu-abu (Hylophilus amaurocephalus ) yang ditemukan di Brasil. Perbedaan halus dalam penampilan – sebagian besar bernuansa hijau, abu-abu, kuning, dan coklat – membuat klasifikasi yang akurat menjadi sulit jika menggunakan metode tradisional.

Titik balik terjadi ketika para peneliti yang dipimpin oleh Dr. Paul van Els dari Museo Nacional de Historia Natural de la Paz, menganalisis gen mitokondria dan nuklir. Hasilnya jelas: populasi Beni menyimpang dari kerabatnya di Brazil sekitar 6,6 juta tahun yang lalu, mendahului perpecahan antara dua spesies yang sebelumnya dikenal selama lebih dari tiga juta tahun. Hal ini menjadikan Beni greenlet sebagai cabang evolusi yang berbeda dalam genus Hylophilus.

Karakteristik Yang Membedakan: Melampaui Genetika

Data genetik saja tidak cukup. Analisis mendetail mengenai ciri-ciri fisik dan vokalisasi semakin memperkuat status anak hijau Beni sebagai spesies terpisah. Berbeda dengan kerabatnya, H. moxensis tidak memiliki tanda hitam atau coklat pada penutup telinganya. Ia juga menampilkan mata coklat tua yang seragam dan menghasilkan lagu unik yang berisi “nada berbentuk V” yang berbeda dengan elemen harmonis yang mirip dengan anak hijau bermata abu-abu betina – kombinasi yang tidak terlihat pada spesies lain.

Perbedaan halus ini, yang dulu diabaikan, kini menentukan spesies baru. Pentingnya pemeriksaan mendetail tidak dapat disepelekan. Banyak burung yang tampak mirip, namun analisis genetik dapat mengungkap perbedaan evolusioner yang mendalam yang mungkin luput dari perhatian.

Masalah Konservasi: Ekosistem yang Rapuh

Meskipun para peneliti saat ini yakin bahwa Beni Greenlet tidak langsung terancam, mereka memperingatkan bahwa pembakaran lahan pertanian skala besar menimbulkan risiko yang signifikan terhadap keanekaragaman hayati di wilayah tersebut. Suku Llanos de Moxos semakin rentan terhadap deforestasi untuk lahan pertanian, yang dapat dengan cepat menghancurkan habitat spesies yang baru dikenali ini.

“Pengakuan Hylophilus moxensis sebagai takson endemik tambahan di wilayah ini seharusnya meningkatkan upaya pembuatan prioritas konservasi,” tulis para penulis. “Pembakaran yang merajalela untuk pertanian skala besar merupakan masalah akut bagi keanekaragaman hayati di kawasan ini.”

Meskipun habitatnya tersebar luas, hanya sedikit sekali penampakan spesies ini yang menunjukkan bahwa spesies ini mungkin berada di wilayah tertentu, sehingga berpotensi lebih rentan dibandingkan perkiraan awal.

Penemuan ini menggarisbawahi pentingnya konservasi di ekosistem yang rapuh ini. Greenlet Beni berfungsi sebagai pengingat bahwa bahkan di wilayah yang telah banyak diteliti, keanekaragaman hayati yang tersembunyi masih ada, dan nasibnya bergantung pada upaya konservasi yang proaktif.

Penelitian tim ini dipublikasikan pada 1 Januari 2026 di Avian Systematics.