Suar Matahari dan Gempa Bumi: Hubungan yang Kontroversial

17

Penelitian terbaru menunjukkan adanya hubungan yang mengejutkan antara jilatan api matahari—semburan energi dahsyat dari matahari—dan aktivitas gempa bumi di Bumi. Meskipun gagasan ini masih diperdebatkan, penelitian ini mengusulkan bahwa suar ini mungkin secara halus mempengaruhi peristiwa seismik dengan mengubah gaya listrik di dalam kerak planet.

Mekanisme yang Diusulkan: Sirkuit Listrik Planet

Teori ini berpusat pada konsep Bumi sebagai sistem kelistrikan yang luas. Retakan yang sangat tertekan di kerak bumi, khususnya di sepanjang garis patahan, mengandung cairan superkritis—zat yang bukan berupa cairan maupun gas—yang kaya akan ion bermuatan. Retakan ini pada dasarnya berperilaku seperti kapasitor alami, menyimpan energi listrik.

Studi ini memodelkan kerak bumi dan ionosfer (lapisan bermuatan di atmosfer bagian atas) sebagai dua terminal baterai yang sangat besar dan tidak sempurna. Jilatan api matahari, ketika diarahkan ke Bumi, menggeser elektron di ionosfer, menciptakan konsentrasi muatan negatif di ketinggian yang lebih rendah. Muatan ini kemudian meningkatkan gaya elektrostatik pada muatan di kerak bumi, sehingga berpotensi memberikan tekanan pada patahan dan memicu gempa bumi.

Mengapa Hal Ini Penting: Perspektif Baru mengenai Risiko Gempa Bumi

Jika hubungan ini benar adanya, hal ini akan menunjukkan perubahan signifikan dalam cara kita memahami risiko gempa bumi. Saat ini, prediksi gempa sangat bergantung pada faktor geologi dan data historis. Kaitan yang terkonfirmasi antara cuaca luar angkasa dan aktivitas seismik akan memperkenalkan variabel baru ke dalam model ini, yang mengharuskan para ilmuwan untuk mempertimbangkan aktivitas matahari bersamaan dengan metode tradisional.

Namun, para ahli memperingatkan terhadap kesimpulan prematur. Model yang digunakan dalam penelitian ini disederhanakan, dan kompleksitas geologi di dunia nyata dapat mengurangi dampak apa pun hingga menjadi tidak signifikan.

Tantangan dan Argumen Balik

Salah satu tantangan besarnya adalah membuktikan sebab akibat. Gempa bumi dan jilatan api matahari merupakan peristiwa yang sering terjadi, sehingga kejadian yang saling tumpang tindih tidak bisa dihindari. Membangun pengaruh langsung memerlukan analisis statistik yang cermat dan eksperimen yang terkontrol—sulit dilakukan mengingat besarnya kekuatan yang terlibat.

Victor Novikov, ahli geofisika di Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia, menunjukkan bahwa penelitian ini tidak sepenuhnya memperhitungkan ketahanan berbagai lapisan batuan terhadap konduktivitas listrik. Resistensi ini dapat secara efektif menetralkan medan listrik sebelum berdampak pada stabilitas gangguan.

Gempa Semenanjung Noto 2024

Para peneliti mengutip gempa Semenanjung Noto tahun 2024 di Jepang sebagai bukti pendukung potensial, dan mencatat bahwa gempa tersebut bertepatan dengan aktivitas jilatan api matahari yang kuat. Namun, korelasi tidak sama dengan sebab akibat. Survei Geologi AS sebelumnya tidak menemukan korelasi yang jelas dan berulang antara siklus matahari 11 tahun dan kejadian gempa bumi.

Kesimpulan

Studi ini mengusulkan jalur baru, meskipun spekulatif, yang menyebabkan jilatan api matahari mempengaruhi gempa bumi. Meskipun model ini sangat disederhanakan dan menghadapi skeptisisme dari peneliti lain, model ini menyoroti potensi hubungan tak terduga antara cuaca luar angkasa dan fenomena geologi. Diperlukan lebih banyak data observasi dan analisis lebih dalam untuk menentukan apakah matahari mampu melawan patahan bumi—sebuah pertanyaan yang masih terbuka untuk saat ini.