Penyerbuan Penyu Purba Mengungkap Kepanikan Massal yang Dipicu Gempa Bumi 80 Juta Tahun Lalu

18

Para pemanjat tebing di Italia telah menemukan bukti luar biasa mengenai kepanikan prasejarah: eksodus massal penyu yang melarikan diri dari gempa bumi sekitar 80 juta tahun yang lalu. Penemuan ini, yang dirinci dalam studi Cretaceous Research baru-baru ini, memberikan gambaran langka tentang bagaimana reptil laut purba merespons pergolakan geologis yang tiba-tiba.

Penemuan yang Kebetulan

Jejak tersebut pertama kali diketahui oleh para pendaki di Monte Cònero, menghadap ke Laut Adriatik. Menyadari potensi signifikansinya, mereka memberi tahu ahli geologi Paolo Sandroni, yang kemudian berkonsultasi dengan Alessandro Montanari, direktur Observatorium Geologi Coldigioco (OGC). Investigasi selanjutnya memastikan bahwa alur di permukaan batu tidak terisolasi; ratusan tanda serupa terdapat di lapisan batu kapur Scaglia Rossa di dalam Taman Regional Cònero.

Kisah Geologi

Formasi batu kapur menampung sedimentasi laut dalam selama jutaan tahun, yang kini terlihat seperti gunung akibat pengangkatan tektonik. Sampel batuan mengungkapkan bahwa jejak tersebut dibuat sekitar 79 juta tahun yang lalu selama Periode Kapur Akhir. Yang penting, sampel tersebut juga berisi bukti longsoran bawah air yang dipicu oleh gempa bumi. Longsoran salju ini dengan cepat mengubur jejak-jejak tersebut, menjaganya agar tidak terhapus oleh arus dasar laut dan organisme pemakan bangkai.

Pelestarian ini adalah kuncinya. Biasanya, jejak apa pun yang ditinggalkan hewan akan segera dimusnahkan. Namun tanah longsor yang disebabkan oleh gempa bumi mengubur jejak tersebut dalam hitungan menit, menciptakan catatan fosil tentang pelarian yang putus asa.

Dari Apa Mereka Lari?

Jejaknya menunjukkan penyerbuan yang terkoordinasi. Meskipun plesiosaurus dan mosasaurus juga menghuni perairan ini, kemungkinan besar penyu adalah pelakunya, mengingat ukuran dan pola jejaknya. Para peneliti berteori bahwa penyu mungkin sedang mencari makan di dekat pantai atau bahkan mencoba bersarang di darat ketika gempa terjadi.

Hal ini menimbulkan pertanyaan kritis: jika perilaku penyu purba serupa dengan spesies modern, mengapa mereka tidak berenang menjauh saja? Jejak tersebut memperlihatkan gerakan “punting” yang berbeda, di mana kedua kaki depan terdorong ke dalam sedimen secara bersamaan. Hal ini menunjukkan upaya panik untuk mendapatkan daya tarik dan melarikan diri secara serempak.

Skeptisisme dan Penelitian Lebih Lanjut

Ahli paleontologi Michael Benton dari Universitas Bristol, meskipun mengakui konteks geologisnya, mempertanyakan apakah penyu adalah satu-satunya pembuat jejak yang masuk akal. Dia mencatat pola “mendayung” yang tidak biasa tidak sejalan dengan gerak reptil laut pada umumnya. Benton juga bertanya-tanya mengapa hewan-hewan itu tidak berenang ke tempat yang aman.

Montanari dan timnya menekankan bukti geologis: gempa bumi memicu longsoran salju di bawah air, dan jejak tersebut merupakan bukti tak terbantahkan dari respons panik. Mereka berharap temuan mereka akan memacu studi paleontologi lebih lanjut terhadap situs tersebut.

Penemuan ini menggarisbawahi bagaimana ekosistem kuno pun dibentuk oleh peristiwa geologis yang tiba-tiba dan penuh kekerasan. Penyerbuan penyu adalah pengingat yang jelas bahwa kelangsungan hidup selalu tentang bereaksi terhadap kekacauan, bahkan 80 juta tahun yang lalu.